Peresmian terminal bus Seloaji Ponorogo oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Jumat (3/2) lalu, terkesan hanya seremonial. Buktinya, terminal di Desa Cekok, Babadan, itu hingga kemarin (7/2) belum beroperasi. ‘’Wacana awalnya memang uji coba dulu’’ kata Kepala Terminal Bus Seloaji Ponorogo Suyatno.
paringan.blogspot.com
Penyebabnya izin dari Kemenhub belum turun, perlengkapan juga belum siap. Selain itu proses relokasi pedagang dan agen juga belum klir. Suyatno mengatakan izin operasional diperkirakan turun bulan depan. Saat ini pihaknya sedang menyiapkan uji coba dan relokasi.

Menurut Suyatno, relokasi juga tidak mudah. Sebab, saat ini hanya ada 40 kavling kios di terminal bus tersebut. Rinciannya, 19 kavling milik pemerintah daerah dan sisanya di bawah pengelolaan pemerintah pusat. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan banyaknya pedagang dan agen yang sudah ada sebelumnya.

Untuk itu pihak pengelola akan menggunakan sistem prioritas, yakni mendahulukan pedagang atau agen yang resmi terdaftar di pengelolaan terminal SeloAji.

Dari 27 agen Bus hanya 12 yang terdaftar, sehingga yang berhak masuk ke terminal baru 12 agen tersebut. Begitu juga para pedagang akan diseleksi untuk menentukan prioritas.

Dalam waktu dekat pihak terminal akan mengundang pedagang, agen dan Dinas Perhubungan untuk membahas masalah ini dan berjanji semua proses akan dilaksanakan dengan transparan.

Pengoperasian terminal bus Seloaji baru ini sangat diharapkan banyak pihak. Selain pedagang dan agen, juga para kru bus maupun penumpang. Sebab, kondisi terminal lama sangat memprihatinkan. 

Selain kotor, juga banyak genangan air akibat landasan pacu yang ambles dan berlubang. Pengelolaannya juga semrawut. "Belum bisa pindah. Masih nunggu informasi,'' kata Boiran, salah seorang pengelola agen bus.

Boiran bersama agen lainnya berharap segera ada kepastian relokasi ke terminal baru. Selain penempatan kavling, juga kepastian tarif sewa. Dia juga mendukung upaya transparansi pengelola terminal. 

Sehingga, tidak ada agen maupun pedagang yang dirugikan. "Kesepakatannya dulu, untuk pembagian kavling dilakukan secara acak, tidak main tunjuk di belakang."


Dilansir : RadarMadiun