Pelarangan becak cinta dan delman wisata di kawasan alun-alun sejak 10 Januari lalu tak bertaji. Buktinya, masih banyak ditemui delman terparkir di kawasan alun-alun. Tapi, para pemilik delman wisata di alun-alun mengeluhkan pendapatannya turun sejak aturan itu.


paringan.blogspot.com


Anton Suseno, salah seorang kusir delman wisata mengaku pendapatannya kian hari kian menurun. Biasanya, dia mangkal di Jalan Alun-Alun Timur tiap malam minimal mengangkut lima orang. Pendapatannya dalam semalam hingga Rp 75 ribu. Tapi kini menurut Anton ada penumpang saja sudah untung-untungan. ‘’Setiap malam sekarang sepi,’’ katanya.

Anton mengatakan, tarif delman sebenarnya terhitung murah. Per orang cukup membayar Rp 10 ribu. Tarif itu berlaku untuk satu kali mengelilingi alun-alun. Tapi, ada juga tarif jarak jauh dengan biaya berbeda.

Menurut Anton, pendapatan turun karena pemberlakuan larangan delman wisata dan becak cinta di alun-alun. Sejak ada aturan itu, Anton sempat berhenti mengoperasikan delman beberapa hari. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk kembali mangkal di alun-alun karena faktor ekonomi. ‘’Saya juga mengikuti teman-teman yang lain. Mereka juga  tidak apa-apa narik delman lagi,’’ terangnya.

Selain itu, penurunan pendapatan itu juga dipengaruhi penataan kawasan alun-alun mulai Maret lalu. Sejak PKL dilarang berjualan di bahu jalan, pengunjung alun-alun berkurang. Padahal, Anton dan teman-temannya menggantungkan ramai tidaknya penumpang delman wisata dari pengunjung alun-alun. ‘’Karena semakin sepi, saya juga mulai mempertimbangkan untuk berhenti. Sebab terlalu banyak aturan yang mengganjal untuk narik delman,’’ ujarnya.




Source : RadarMadiun