Raut bahagia dan bangga tampak di raut dua mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, FDK, UIN Sunan Ampel Surabaya, saat pertama kali menginjakkan kaki di Sydney, Australia. Lenny Lutfiyah dan Anifatul Jannah adalah dua orang terpilih yang diundang dan difasilitasi oleh Sydney University Australia karena rencana bisnis yang dibuat dipandang layak untuk didukung. Keduanya mendapat kesempatan untuk mengikuti workshop, presentasi, berbagi ide dan gagasan tentang kewirausahaan yang sudah mereka jalankan dalam EDNA Genesys (Entrepreneurship Development Network Asia). Tidak hanya sekedar pengalaman pergi ke luar negeri yang didapatkan, tetapi ilmu baru, atmosfir akademik baru, pengalaman baru untuk berbicara dalam forum dengan berbahasa asing, dan tantangan untuk menampilkan UIN dan Islam dalam kemasan yang terbaik. UIN dan Islam yang berwawasan dan toleran.
Rangkaian program EDNA Genesys adalah salah satu program yang dikembangankan oleh Sekolah Bisnis dibawah University of Sydney. Program ini berupaya untuk meningkatkan semangat wirausaha di kawasan Asia Tenggara (India, Vietnam, Kamboja, Laos, Jepang, dan Indonesia). Diantara program yang dijalankan, salah satunya adalah workshop dan sharing rencana bisnis yang dibuka untuk mahasiswa University of Sydney, baik mahasiswa aktif maupun alumni, serta diikuti oleh beberapa peserta dari negara mitra.


paringan.blogspot.com
Wirausaha UIN Sunan Ampel In Sydney

Untuk semester kedua di tahun ini, Indonesia diwakili oleh UIN Sunan Ampel Surabaya. Sebagai peserta yang lolos seleksi dan kompetisi. Lenny Lutfiyah dan Anifatul Jannah berhak untuk mempresentasikan kedua rencana bisnis mereka dihadapan para finalis dan juri pada malam puncak acara. Keduanya mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Ampel Surabaya. Sepanjang acara berlangsung, mereka didampingi oleh Advan Navis Zubaidi sebagai mentor.
Kedua model rencana bisnis yang dipresentasikan (meskipun sebetulnya bukan sekedar rencana, tapi sudah berjalan) memiliki karakter yang berbeda. Rencana bisnis Lenny adalah bisnis keuntungan murni (profit enterprise), sedangkan Anifatul adalah bisnis sosial (social enterprise). Rencana bisnis yang dikembangkan Lenny adalah bisnis di bidang jasa penelitian dan pengembangan, dinamakan SMR (Surabaya moslem research). Ada dua nilai lebih yang ditonjolkan dalam bisnis ini. Pertama adalah model kontrak (agreement). Berbeda dengan bisnis pada umunya, bisnis ini secara spesifik menawarkan kontrak dengan model musyarakah, keuntungan dan resiko yang akan diperoleh akan berbanding lurus dengan jalannya usaha yang akan dijalankan. Nilai lebih yang kedua adalah perspektif keislaman. Sudat pandang ini untuk mengetahui karakter komunitas muslim sebagai target pasar. Sebab, tidak sedikit bisnis yang jatuh hanya karena mereka tidak sadar bahwa pasar muslim terkadang mempertimbangkan nilai-nilai agama saat memutuskan untuk membeli sebuah produk. Tidak banyak jasa riset yang secara spesifik menggunakan pendekatan ini sebagai nilai lebih. Celah inilah yang akan dijual.
Rencana bisnis yang kedua adalah rencana bisnis sosial, Mobile Book Collection (MBC) yang dipresentasikan oleh Anifatul Jannah. Berawal dari kegelisahan tentang rendahnya minat baca di kalangan anak usia 7-14 tahun di Sidoarjo, maka melalui program MBC diharapkan semua memiliki kesempatan yang sama terhadap akses baca. Sesuai dengan judul bisnis yang ditawarkan, produk dari renacana bisnis ini adalah perpustakaan keliling menggunkan motor box dan akan menjangkau pelosok desa. Tidak sekedar berkeliling, namun juga ada proses edukasi dan pendampingan baca untuk anak usia 7-14tahun.
Sampai saat ini, program ini sudah berjalan baik dan akan terus ditingkatkan. Meskipun tumbuh sebagai bisnis sosial, MBC juga melakukan beberapa langkah profit yang akan mendukung kerja sosial yang dikembangkan. Diantaranya, penjualan buku, event, serta pendampingan CSR beberapa perusahaan yang memilki visi misi sosial yang sama. Sepanjang agenda kegiatan ini berjalan keduanya mendapat dukungan yang luar biasa dari para audiens dan juri. Beberapa menawarkan rencana kerja untuk beberapa project yang akan datang.
Benang merah dari semua rencana bisnis yang dikembangkan oleh peserta pada ajang ini adalah bisnis dibidang jasa dan difasilitasi oleh teknologi informasi. Sebab bisnis jasa dan layanan lebih tangguh terhadap perubahan keuangan yang sedang terjadi. Tantangan mereka terdapat pada kreatifitas dan inovasi yang dilahirkan. Puncak acara pada selasa malam, 27 Oktober 2015 berakhir dengan hangat. Masing-masing peserta berdiskusi untuk rencana panjang selanjutnya, menjalin relasi dan kerjasama. Semoga acara ini membawa berkah dan manfaat bagi keluarga besar DIKTIS dan Kementerian Agama.

(Advan Navis Zubaidi / diktis.kemenag.go.id)